Jumat, 29 Januari 2016

Memorable Memories

Bersekolah di Insan Cendekia mungkin akan menjadi pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Sekolah islam dengan predikat bagus. Mungkin IC tidak begitu dikenal di wilayahku tapi itu tak menyurutkan keinginan ayah untuk menyekolahkanku di sini.  Serpong-Salatiga. 546 kilometer. Cukup jauh buatku yang tidak pernah sekalipun jauh dari orang tua.
Pertama kali kujejakkan kakiku di sini, berjejer rak piala memenuhi ruang resepsionis hingga ruang audio visual. Piala dan medali tak kalah menghiasi. Jilbab panjang dan rok bukan pemandangan yang biasa kulihat. Tiap salam yang diucapkan ketika berpapasan dan tiap senyuman yang turut dilemparkan cukup membuatku canggung.
Baru di IC aku memahami bagaimana kita berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Bukan masalah mengejar nilai, tapi bagaimana supaya aku bisa tetap bertahan di sini. Bagaimana bisa belajar yang sebenarnya. Tak urung tengah malam kulampaui. Sulit memang menjalani tugas dan begitu banyak materi yang aku tidak mengerti. Tapi, aku selalu sadar bahwa aku tidak sendiri di sini. Ada teman, ada cita-cita yang perlu kukejar, dan kebanggan orang tua yang perlu kujaga.
Semoga aku lekas menyandang Insan Cendekia sebagai alumni :)
 

Jas Merah

quotesgram.com



   Sejarah. Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang membahas sebuah kejadian atau peristiwa pada masa lampau. Sumber sejarah bisa berupa sumber primer yang berasal dari kesaksian langsung pelaku atau saksi sejarah, dari dokumen, catatan, atau peninggalan asli, sedangkan sumber sekunder berasal dari sumber pustaka hasil penelitian ahli sejarah , laporan penelitian, maupun terjemahan dari kitab-kitab kuno.
Konsep sejarah :
*      Time
Sejarah jelas berhubungan dengan waktu kejadian peristiwa dan kronologi peristiwa tersebut.
*      Space
Penjelasan mengenai tempat peristiwa sejarah.
*      Activity
Penjelasan mengenai proses terjadinya peristiwa yang mnyangkut kausalitas  dan pelaku.
*      Continuity
Sejarah harus berhubungan antar satu peristiwa dengan peristiwa lainnya sehingga mengakibatkan perubahan

   Sejarah tentu dekat dengan kita. Berbagai ingatan yang kita punya di masa lalu bisa disebut sebagai sejarah. Kapan kita dilahirkan, di mana kita bersekolah, berkenalan dengan teman baru, bahkan hal sesederhana silsilah keluarga juga merupakan bagian dari sejarah. Tetapi, untuk menjadi bagian dari sejarah yang bisa dikenal dunia, peristiwa tersebut haruslah mencakup sesuatu yang besar. Seperti peristiwa Perang Dunia I, Proklamasi Indonesia, dan berbagai peristiwa lain yang tidak mungkin terulang. Kita tidak bisa mengulang peristiwa, kita hanya bisa merekonstruksi bagaimana fenomena peristiwa tersebut terjadi.
   Agar sejarah itu tidak mudah terlupakan kita perlu membuat sebuah peninggalan yang bisa dilihat orang lain. Bisa dengan tulisan, album foto, maupun dengan cara nge-blog. Menarik bukan, ketika generasi setelah kita bisa membaca ulang peninggalan-peninggalan kita? Mereka mungkin akan membandingkan kehidupan modern yang mereka punyai dengan keadaan kita yang sekarang. Mempelajari gaya bahasa yang kita miliki, melihat foto-foto alam di masa kita ketika langit masih biru bersih dengan hamparan sawah yang luas. 
   Nah, seperti kata Bung  Karno :

Senin, 28 Desember 2015

Kehidupan Asrama

   Entah kenapa, sepulang dari sekolah berasrama rumah sendiri terasa 10 kali lebih nyaman. Tidak ada tuh, tugas menumpuk menunggu dikerjakan, materi yang tak tuntas di paham kan, serta segunung ulangan rumit menyebalkan. Nggak ada lagi agenda begadang hingga pagi (bukan larut malam) dalam rangka menguras otak ditemani secangkir kopi yang sering kali tidak mempan melawan kantuk yang membunuh. Nggak ada , setidaknya untuk sementara, bangun lalu mandi jam setengah empat pagi agar tidak terlambat datang ke masjid dan mendapat catatan buruk karena menjadi makmum masbuk. Nggak ada acara disuruh wudhu berkali-kali karena kepala terangguk-angguk tak sadarkan diri. Sholat tahu sah atau tidak karena tidak sadar beribadah sambil bermimpi. Nggak ada sarapan dengan antri tanpa bisa menakar lauk sesuai kemauan sendiri. Nggak ada makan terburu-buru kalau tiba-tiba lupa atau tak sempat mandi sebelum pergi shubuh. Nggak perlu jalan jauh-jauh buat sholat-makan-asrama bikin betis besar kayak olahragawan. Nggak ada countdown. Nggak perlu bersih-bersih kamar macam menyapu, membuang sampah, membuka jendela, dan merapikan kamar mandi karena di rumah segalanya telah tertata dengan sempurna. Nggak ada acara belajar keras sampai sore, mata meminta di pejamkan padahal usai pelajaranpun urung, dan otak dipaksa mengerti dan memahami materi dengan skala kesulitan 8 dari 10 (bagiku-) yang terhitung kapasitas otaknya termasuk rata-rata ke bawah. Nggak perlu bawa tas yang berat dengan otak yang tak kalah panas. Nggak perlu nyuci, njemur, atau nyetrika ketika sampai di asrama padahal badan letih tidak terkira. Padahal, di rumah ada mesin cuci dan saat membuka lemari  pakaian telah tertata berlipat rapi. Nggak perlu sehabis mandi, buru-buru ke kantin untuk kemudian pergi lagi ke masjid hingga jam delapan malam. Lelah dan ngantuk tidak boleh terjadi karena pelajaran belum disentuh sama sekali. Harus kuat. Harus bulat tekad.
   Kamar lebih indah lagi karena tidak perlu berbagi dengan 4 orang lainnya dengan karakter berbeda. Penyabar sekaligus menyebalkan, kreatif sekaligus over perfeksionis, motivator sekaligus moodbreaker, dan santai sekaligus bermulut tajam. Belum cara belajar yang berbeda-beda, ada yang membatin, membuat mind map, menggumam, melafalkan dengan keras, atau bahkan tidur lalu esoknya tuntas. Tidak sedikit tipe terakhir tadi di sini. Cukup membuat minder dan merasa dunia tidak adil. Berbagi makanan. Berbagi tempat tidur dan tempat belajar dengan ukuran kamar mungkin dua kali kamarku untuk 5 orang. Berbagi kamar mandi yang awalnya menjijikkan karena harus berbagi tempat dengan orang yang tidak kau kenal dan tidak mempunyai hubungan darah denganmu. Berbagi kebutuhan yang sebetulnya kau juga butuh tapi mereka juga perlu.  Walau ada yang tidak tahu diri dan mengerti arti berbagi. Tapi begitulah asrama. Tempatmu tinggal sekaligus bersosialisasi. Tidak apa. Hanya 2.5 tahun lagi yang perlu kulewati.

Rabu, 23 Desember 2015

Enam Bulan Pertama

   Berat. Sangat berat. Kesanku saat harus satu sekolah dan bersaing dengan anak cerdas dengan high achievement. Bukan hal yang mudah. Ambisi itu akan selalu muncul seiring kita tidak mau berada di posisi rendah. Bukan malas atau apa, sering namaku muncul di posisi anak rata-rata bawah karena memang kapasitas otakku yang mentok segitu. Jadi mau gak tidur seharian buat belajar nilaipun nilaiku ya stuck  disitu.
   Miris. Ketika kamu belajar hingga tengah malam. Tapi yang tuntas justru yang baru belajar paginya. Ngga baik emang membanding-bandingkan nilai.  Ngga baik merendahkan usaha orang. Seolah-olah tidak bersyukur dengan nilai yang udah ada. Tapi di sisi lain terbersit, "Salahku apa yaa? Kenapa nilaiku bisa segini?"
   Tidak sedikit yang ketika nilainya tuntas tiba-tiba berkata, "aah nilaiku kok cuma 80.." Aku benar-benar ngga ngerti apa yang ada dipikirannya. Harusnya ia merasakan posisiku untuk bisa mengerti betapa bersyukur nya dapet nilai sebagus itu. Atau ada juga yang bilang, "Iiiih nilaiku cuma 74, nyariss . Aku mah mending dapet nilai jelek sekalian daripada dapet segini. Nyesek" Lalu muncul umpatan dariku. Gembel. Pikiranmu pendek sekali. Astagfirullah. Sabar.
   Tentu banyak juga yang berasumsi nilai itu tidak begitu penting, jadi mereka hanya memedulikan apakah mereka dapat remed atau tidak, sehingga tidak perlu mengeluhkan hal -hal macam itu.
   Enam bulan pertama dengan kesabaran ekstra.

Senin, 20 Juli 2015

Sepuluh Hari Sejuta Cerita

Haha cerita ini latepost banget, tapi gapapalaah yaaa (maksa..)
Jadii 10hari lalu aku baru balik nih, sepuluh hari yang rasanya tuh udah kayak berbulan-bulan, beuh.
Hari pertama, rasanya tanganku mati rasa banget sehabis narik koper dari lapangan sampai asrama. Fyi, kamarku ada di lantai dua. Nggak kebayang deh yang kamarnya di lantai tiga. Yaa namanya wilayah baru, pertama kali lewat pasti berasa jwauh dong.
Malemnya, aku kebingungan tuh, pakaian kotor numpuk tapi aku nggak tahu-menahu caranya nyuci. Memalukan. Kebetulan si Irma yang notabene pernah ngasrama sebelumnya ngajarin aku sama si Sarah nyuci mwahaha. Tapi, yang namanya Fira mah tetep aja tuh nggak bisa. Akhirnya asal kucek aja yang penting wangi  xD
Oya, untuk saat ini, temen sekamarku ada empat nih. Semuanya alhamdulillah rajin, pinter, dan alim. Lumayan buat nyeret aku supaya ikutan rajin, pinter, dan alim mwahaha.
Ada lagi cerita nih, jadi nama Fira itu nama yang lumayan banyak dipakai di angkatan 21. Ada 6 orang coba:' Gapapalah, berartikan makna dari namanya bagus, kan ya? (Mencari pembelaan..)
Udau dulu ah ceritanya, capek ngetik. Bhay! :3
 

Let's Talk Template by Ipietoon Cute Blog Design