Entah kenapa, sepulang dari sekolah berasrama rumah sendiri terasa 10 kali lebih nyaman. Tidak ada tuh, tugas menumpuk menunggu dikerjakan, materi yang tak tuntas di paham kan, serta segunung ulangan rumit menyebalkan. Nggak ada lagi agenda begadang hingga pagi (bukan larut malam) dalam rangka menguras otak ditemani secangkir kopi yang sering kali tidak mempan melawan kantuk yang membunuh. Nggak ada , setidaknya untuk sementara, bangun lalu mandi jam setengah empat pagi agar tidak terlambat datang ke masjid dan mendapat catatan buruk karena menjadi makmum masbuk. Nggak ada acara disuruh wudhu berkali-kali karena kepala terangguk-angguk tak sadarkan diri. Sholat tahu sah atau tidak karena tidak sadar beribadah sambil bermimpi. Nggak ada sarapan dengan antri tanpa bisa menakar lauk sesuai kemauan sendiri. Nggak ada makan terburu-buru kalau tiba-tiba lupa atau tak sempat mandi sebelum pergi shubuh. Nggak perlu jalan jauh-jauh buat sholat-makan-asrama bikin betis besar kayak olahragawan. Nggak ada countdown. Nggak perlu bersih-bersih kamar macam menyapu, membuang sampah, membuka jendela, dan merapikan kamar mandi karena di rumah segalanya telah tertata dengan sempurna. Nggak ada acara belajar keras sampai sore, mata meminta di pejamkan padahal usai pelajaranpun urung, dan otak dipaksa mengerti dan memahami materi dengan skala kesulitan 8 dari 10 (bagiku-) yang terhitung kapasitas otaknya termasuk rata-rata ke bawah. Nggak perlu bawa tas yang berat dengan otak yang tak kalah panas. Nggak perlu nyuci, njemur, atau nyetrika ketika sampai di asrama padahal badan letih tidak terkira. Padahal, di rumah ada mesin cuci dan saat membuka lemari pakaian telah tertata berlipat rapi. Nggak perlu sehabis mandi, buru-buru ke kantin untuk kemudian pergi lagi ke masjid hingga jam delapan malam. Lelah dan ngantuk tidak boleh terjadi karena pelajaran belum disentuh sama sekali. Harus kuat. Harus bulat tekad.
Kamar lebih indah lagi karena tidak perlu berbagi dengan 4 orang lainnya dengan karakter berbeda. Penyabar sekaligus menyebalkan, kreatif sekaligus over perfeksionis, motivator sekaligus moodbreaker, dan santai sekaligus bermulut tajam. Belum cara belajar yang berbeda-beda, ada yang membatin, membuat mind map, menggumam, melafalkan dengan keras, atau bahkan tidur lalu esoknya tuntas. Tidak sedikit tipe terakhir tadi di sini. Cukup membuat minder dan merasa dunia tidak adil. Berbagi makanan. Berbagi tempat tidur dan tempat belajar dengan ukuran kamar mungkin dua kali kamarku untuk 5 orang. Berbagi kamar mandi yang awalnya menjijikkan karena harus berbagi tempat dengan orang yang tidak kau kenal dan tidak mempunyai hubungan darah denganmu. Berbagi kebutuhan yang sebetulnya kau juga butuh tapi mereka juga perlu. Walau ada yang tidak tahu diri dan mengerti arti berbagi. Tapi begitulah asrama. Tempatmu tinggal sekaligus bersosialisasi. Tidak apa. Hanya 2.5 tahun lagi yang perlu kulewati.
Senin, 28 Desember 2015
Rabu, 23 Desember 2015
Enam Bulan Pertama
Berat. Sangat berat. Kesanku saat harus satu sekolah dan bersaing dengan anak cerdas dengan high achievement. Bukan hal yang mudah. Ambisi itu akan selalu muncul seiring kita tidak mau berada di posisi rendah. Bukan malas atau apa, sering namaku muncul di posisi anak rata-rata bawah karena memang kapasitas otakku yang mentok segitu. Jadi mau gak tidur seharian buat belajar nilaipun nilaiku ya stuck disitu.
Miris. Ketika kamu belajar hingga tengah malam. Tapi yang tuntas justru yang baru belajar paginya. Ngga baik emang membanding-bandingkan nilai. Ngga baik merendahkan usaha orang. Seolah-olah tidak bersyukur dengan nilai yang udah ada. Tapi di sisi lain terbersit, "Salahku apa yaa? Kenapa nilaiku bisa segini?"
Tidak sedikit yang ketika nilainya tuntas tiba-tiba berkata, "aah nilaiku kok cuma 80.." Aku benar-benar ngga ngerti apa yang ada dipikirannya. Harusnya ia merasakan posisiku untuk bisa mengerti betapa bersyukur nya dapet nilai sebagus itu. Atau ada juga yang bilang, "Iiiih nilaiku cuma 74, nyariss . Aku mah mending dapet nilai jelek sekalian daripada dapet segini. Nyesek" Lalu muncul umpatan dariku. Gembel. Pikiranmu pendek sekali. Astagfirullah. Sabar.
Tentu banyak juga yang berasumsi nilai itu tidak begitu penting, jadi mereka hanya memedulikan apakah mereka dapat remed atau tidak, sehingga tidak perlu mengeluhkan hal -hal macam itu.
Enam bulan pertama dengan kesabaran ekstra.
Miris. Ketika kamu belajar hingga tengah malam. Tapi yang tuntas justru yang baru belajar paginya. Ngga baik emang membanding-bandingkan nilai. Ngga baik merendahkan usaha orang. Seolah-olah tidak bersyukur dengan nilai yang udah ada. Tapi di sisi lain terbersit, "Salahku apa yaa? Kenapa nilaiku bisa segini?"
Tidak sedikit yang ketika nilainya tuntas tiba-tiba berkata, "aah nilaiku kok cuma 80.." Aku benar-benar ngga ngerti apa yang ada dipikirannya. Harusnya ia merasakan posisiku untuk bisa mengerti betapa bersyukur nya dapet nilai sebagus itu. Atau ada juga yang bilang, "Iiiih nilaiku cuma 74, nyariss . Aku mah mending dapet nilai jelek sekalian daripada dapet segini. Nyesek" Lalu muncul umpatan dariku. Gembel. Pikiranmu pendek sekali. Astagfirullah. Sabar.
Tentu banyak juga yang berasumsi nilai itu tidak begitu penting, jadi mereka hanya memedulikan apakah mereka dapat remed atau tidak, sehingga tidak perlu mengeluhkan hal -hal macam itu.
Enam bulan pertama dengan kesabaran ekstra.
Senin, 20 Juli 2015
Sepuluh Hari Sejuta Cerita
Haha cerita ini latepost banget, tapi gapapalaah yaaa (maksa..)
Jadii 10hari lalu aku baru balik nih, sepuluh hari yang rasanya tuh udah kayak berbulan-bulan, beuh.
Hari pertama, rasanya tanganku mati rasa banget sehabis narik koper dari lapangan sampai asrama. Fyi, kamarku ada di lantai dua. Nggak kebayang deh yang kamarnya di lantai tiga. Yaa namanya wilayah baru, pertama kali lewat pasti berasa jwauh dong.
Malemnya, aku kebingungan tuh, pakaian kotor numpuk tapi aku nggak tahu-menahu caranya nyuci. Memalukan. Kebetulan si Irma yang notabene pernah ngasrama sebelumnya ngajarin aku sama si Sarah nyuci mwahaha. Tapi, yang namanya Fira mah tetep aja tuh nggak bisa. Akhirnya asal kucek aja yang penting wangi xD
Oya, untuk saat ini, temen sekamarku ada empat nih. Semuanya alhamdulillah rajin, pinter, dan alim. Lumayan buat nyeret aku supaya ikutan rajin, pinter, dan alim mwahaha.
Ada lagi cerita nih, jadi nama Fira itu nama yang lumayan banyak dipakai di angkatan 21. Ada 6 orang coba:' Gapapalah, berartikan makna dari namanya bagus, kan ya? (Mencari pembelaan..)
Udau dulu ah ceritanya, capek ngetik. Bhay! :3
Jadii 10hari lalu aku baru balik nih, sepuluh hari yang rasanya tuh udah kayak berbulan-bulan, beuh.
Hari pertama, rasanya tanganku mati rasa banget sehabis narik koper dari lapangan sampai asrama. Fyi, kamarku ada di lantai dua. Nggak kebayang deh yang kamarnya di lantai tiga. Yaa namanya wilayah baru, pertama kali lewat pasti berasa jwauh dong.
Malemnya, aku kebingungan tuh, pakaian kotor numpuk tapi aku nggak tahu-menahu caranya nyuci. Memalukan. Kebetulan si Irma yang notabene pernah ngasrama sebelumnya ngajarin aku sama si Sarah nyuci mwahaha. Tapi, yang namanya Fira mah tetep aja tuh nggak bisa. Akhirnya asal kucek aja yang penting wangi xD
Oya, untuk saat ini, temen sekamarku ada empat nih. Semuanya alhamdulillah rajin, pinter, dan alim. Lumayan buat nyeret aku supaya ikutan rajin, pinter, dan alim mwahaha.
Ada lagi cerita nih, jadi nama Fira itu nama yang lumayan banyak dipakai di angkatan 21. Ada 6 orang coba:' Gapapalah, berartikan makna dari namanya bagus, kan ya? (Mencari pembelaan..)
Udau dulu ah ceritanya, capek ngetik. Bhay! :3
Jumat, 05 Juni 2015
Best Gift On June
Allah's plan itu emang selalu indah dan nggak terduga banget ya. Tadi sore aku rada sedih gitu setelah nemuin fakta yg cukup bikin surprised. Sayang aku nggak bisa cerita ke siapa-siapa. Let me save it by myself. Agak kecewa juga sih. Campur aduklah. Terus tadi malem waktu lagi murung-murungnya, dinda ngeping aku tuh. Dengan rada males aku buka bbm karena lagi ngga mood. Tiba-tiba dinda ngirimin screenshot. Aku deg-degan dong ya. Ada barisan nama di situ. Aku baca sekilas ada namaku, terus dinda nge-chat ngucapin selamat. Sempet speechless, aku berusaha tetep kalem. Jangan gr. Jangan gr. Eh ternyata aku keterima di IC. Alhamdulillah bangeeett. Sayang dinda, fiha, hasna ngga keterima. Rada sedih karena bakal sendirian di sana:( Awalnya aku kira aku keterima di pekalongan, ternyata di serpong. Tambah seneng deh. Ngga ada setengah jam setelah aku dapet info dari dinda, bbm ngucapin selamat berluncuran, aku nggaktau mereka tau dari mana. Banyak banget ucapannya. Ada yang chat, ada yang lewat pm. Makasih banyak teman-teman :'D eaa terharu. Nopek bahkan telepon, tapi sayang aku nggak bisa angkat. Dia juga ganti dp fotoku yang aiib banget. Ih sebel-_- aaaw i love this day so muuuuccchh.
Kamis, 04 Juni 2015
To be Broken or Break Another Soul
I believe you've ever been in love with someone, but then your special one doesn't love you back. I also believe you've ever been in love by someone else but you do not love him back. So, which one do you choose, to be broken or to break someone you do not have a feeling?
Langganan:
Postingan (Atom)